SEJARAH BENDUNG PAMARAYAN

 

LATAR BELAKANG


 

Sungai Ciujung merupakan sungai terbesar di Provinsi Banten, melewati 2 kabupaten yaitu Kabupaten Lebak dan Kabupaten Serang. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Ciujung + 1850 km2 terdiri dari tiga anak sungai utama yaitu : Sungai Cisimeut luas Sub DAS 458 km2, Sungai Ciberang luas Sub DAS 304 km2, Sungai Ciujung Hulu luas Sub DAS 594 km2 dan anak sungai lainnya yang lebih kecil berada disebelah hilir kota Rangkasbitung yaitu Sungai Cikambuy, Sungai Cisangu, Sungai Ciasem, Sungai Cibongor dan Sungai Ciyapah.

Curah hujan tahunan rata-rata antara 1.500 mm pada daerah dataran pantai utara sampai dengan 2.500 mm pada bagian hulu. Temperatur berkisar antara 26° sampai 30° dengan kelembaban udara 80% serta kecepatan angin berkisar antara 4 sampai 5 knot atau 2,1 m/detik.

Panjang Sungai Ciujung + 142 km, terdapat satu bendung yang berfungsi untuk mengairi Daerah Irigasi Ciujung yaitu Bendung Pamarayan.

Daerah Irigasi Ciujung telah beroperasi hampir 90 tahun dengan luas areal 21.454 ha terbentang dibagian utara wilayah Kabupaten Serang, mendapat air dari Sungai Ciujung melalui Bendung Pamarayan Lama yang disalurkan melalui saluran utama dan selesai dibangun pada tahun 1918.

Karena kondisi Bendung Pamarayan Lama sudah tidak memungkinkan untuk dioperasikan, maka pada tahun 1997 beroperasi Bendung Pamarayan Baru yang telah dibangun sejak tahun 1992 sebagai pengganti Bendung Pamarayan Lama dan tetap menggunakan saluran utama yang ada untuk suplai air ke daerah irigasi karena masih memungkinkan untuk digunakan. Daerah Irigasi Ciujung ini merupakan daerah lumbung padi untuk Kabupaten Serang dan dapat menyumbang kebutuhan beras bagi Provinsi Banten.

Bendung atau Dam Pamarayan merupakan salah satu peninggalan arsitektur masa kolonial belanda di banten yang masih kokoh sberdiri.

Bendung Pamarayan memiliki 10 buah pintu pengatur air terbuat dari lempengan baja yang masing-masing diapit oleh tiang-tiang kokoh dengan tiga bangunan berbentuk menara, fungsinya sebagai ruang mesin untuk menurunkan dan menaikanpintu-pintu air tersebut.

Pada masa sebelum pemerintah belanda membangun jaringan irigasi yang kemudian dinamakan irigasi Ciujung Pamarayan, di daerah ini telah dibangun jaringan irigasi kecil yang sangat sederhana. Saluran irigasi tertua adalah yang dibangun oleh Sultan Ageng Tirtayasa pada abad ke 17 yang dikenal sebagai Kanal Sultan.

Untuk meredam pergolakan yang selalu timbul di Banten, pemerintah Hindia Belanda merencanakan pembangunan jaringan irigasi untuk mengairi dataran Banten utara yang meliputi dataran rendah pantai utara Jawa di sebelah barat kali Ciujung sampai ke selat Sunda.

Kanal sultan menyadap air kali Cidurian ke arah kiri untuk mengairi dataran rendah tanara. Di samping kanal sultan terdapat beberapa jaringan-jaringan irigasi kecil yang menyadapa air dari kali-kali kecil seperti cibongor, cicauk cisaid, ciwaka dan cipare. Luas daerah yang dapat dilayani oleh irigasi-irigasi kecil ini hanya 30 % selebihnya masih berupa lahan persawahan tadah hujan.

Pengukuran Topografi, Hidrometri dan pengumpulan data dasar untuk perencanaan jaringan irigasi dimulai pada tahun 1896. Tahun 1899 diterbitkan laporan penilaian kelayakan proyek irigasi dan komite rehabilitasi yang dibentuk oleh pemerintah Belanda pada tahun 1897. Komisi ini merekomendasikan agar pemerintah tidak semata menilai pembangunan proyek dari segi fiskal semata, melainkan harus lebih banyak ditekankan pada asperk sosial ekonomi masyarakat.

Pembangunan fisik jaringan irigasi baru dimulai pada tahu 1905. bangunan utama irigasi ini berupa sebuah bendung di dekat desa Pamarayan di kali ciujung. Karna itu bangunan ini dinamakan bangunan pamarayan, jaringan irigasinya dinamakan irigasi Ciujung Pamarayan.

Bendung yang semula direncanakan sebagai bendung tetap, setelah dikerjakan selama 5 tahun dirubah untuk dibangun menjadi bendung gerak. Selain itu pembangunan bendung yang semula direncanakan dibangun langsung diatas sungai tanpa perlu membuat saluran pengelak, ternyata setelah 4 tahun pembangunan berjalan selalu mengalami kegagalan dalam pembuatan sumur bangunan sehingga diputuskan untuk membuat saluran pengelak.

Bendung gerak Pamarayan baru terletak di Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Bendung yang dibangun pada tahun 1992, mulai dioperasikan pada 1997 ini, merupakan pengganti dari bendung lama yang dibangun di zaman pemerintah Belanda. Bedung lama tersebut merupakan bendung konvensional yang mengalami kerusakan berat di tahun 1994.

Bendung Pamarayan baru yang bertipe bedung gerak ini, mengunakan metode teknologi modern. Yaitu, dengan menggunakan pintu gerak yang dikendalikan secara otomatis, melalui tenaga listrik dengan daya yang tinggi.

TUJUAN


Menjamin kelangsungan tersedianya air bagi Daerah Irigasi Ciujung seluas 21.454 ha.

 

MANFAAT


  1. Menjamin kelangsungan tersedianya air bagi D.I. Ciujung seluas 21.454 ha
  2. Melaksanakan Rehabilitasi Sistem Irigasi Ciujung untuk menaikan intensitas tanam dari 126% menjadi 165%
  3. Penyediaan air baku industri dan domestik
  4. Menciptakan lapangan kerja
  5. Meningkatkan hasil produksi pertanian

 

BIAYA


Sumber dana untuk pembiayaan pelaksanaan pembangunan Bendung Pamarayan berasal dari: Loan OECF IP-341 sebesar ¥ 5.667(dalam juta yen)